HomeArtikel MotivasiApakah Seorang Motivator Adalah Penjual Ludah ?
motivator penjual ludah, motivator indonesia, motivator, motivator bisnis, jamil azzaini, ary ginanjar

Apakah Seorang Motivator Adalah Penjual Ludah ?

Artikel Motivasi 0 5 likes 886 views share

Saya tergelitik untuk menulis tulisan ini, karena akhir-akhir ini banyak yang bilang bahwa motivator merupakan penjual ludah alias tidak pernah mempraktikan apa yang ia katakan. Begini, saya tidak perlu meresponnya dengan serius karena semua orang hakikatnya adalah penjual ludah. Kok bisa?, seorang Kiai atau Pendeta apakah pernah masuk surga atau neraka?Lantas mengapa mereka berbicara tentang surga dan neraka?, apakah berani kita mengatakan ia seorang penjual ludah juga? Kalau saya sih tidak berani mengatakannya.

Begini, pelan-pelan saya jelaskan untuk anda. Bahwa ada ilmu yang perlu kita buktikan sendiri untuk kebenarannya, dan ada ilmu yang kita cukup tau karena sudah dibuktikan oleh orang lain. Dalam dunia bisnis sendiri, ada seorang praktisi (pelaku) dan akademisi (ilmuan). Keduanya tentunya memiliki bidang ilmu khusus yang tidak bisa disamakan. Praktisi mungkin bisa menjelaskan apa yang ia telah lakukan sendiri, namun kekurangannya adalah ia tidak bisa berbicara tentang orang lain yang telah lakukan. Sedangkan akademisi sebaliknya, katakanlah ia belum melakukannya tetapi sudah mempelajari apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Tentunya dalam hal ini transfer knowledge menjadi lebih penting. Secara sederhana, anda boleh berbicara apa yang anda telah lakukan sendiri, atau apa yang telah dilakukan oleh orang lain.

Pertanyaannya adalah, motivator berkedudukan sebagai seorang praktisi atau akademisi ? jawabannya adalah KEDUANYA. Ketika motivator berbicara tentang sebuah krisis global, teori, tentunya hal itu tidak berdasarkan pengalaman, melainkan PENGAMATAN. Dan ketika berbicara tentang investasi, peluang bisnis, maka hal itu bisa berdasar PENGALAMAN. Karena sang motivator bisa menceritakan apa yang telah ia lakukan selama berbisnis.

Namun pertanyaan besarnya adalah, apakah semua motivator adalah motivator bisnis? Jawabannya TIDAK!. Karena faktanya para Motivator Indonesia yang memiliki spesifikasi masing-masing. Seperti Jamil Azzaini yang fokus pada bidang leadership, Motivator Indonesia Prasetya M Brata dibidang mindset hidup, Motivator Indonesia Ary ginanjar dibidang spiritual. Sehingga ketika membawakan materi motivasi, tentunya tidak berbicara tentang uang, tetapi bagaimana mengembangkan hidup secara maksimal. Tentunya ilmu mereka juga kombinasi antara apa yang dialami sendiri dan apa yang dipelajari dari orang lain.

Baca artikel lainnya : Daftar 7 Motivator Indonesia Energik Makjleb!

Lalu banyak juga yang mencibir para motivator bisnis, yang mengatakan bahwa motivator tersebut hanya menjual ludah saja tanpa membuktikannya. Ada cerita menarik seperti ini, datanglah seorang Agung untuk menhadiri sebuah seminar motivasi bisnis berbayar yang diadakan oleh seorang motivator di Kotanya. Sang motivator berbicara banyak hal untuk memahami kuadran rezeki, peluang usaha, cara meraih modal dan sebagainya. Singkat cerita seminar telah selesai, dan Agung bertanya kepada sang motivator tersebut. “Apakah bapak sudah membuktikan teori-teori yang bapak sampaikan untuk berbisnis? karena saya lihat bapak tidak memiliki sebuah bisnis”. Lalu sang motivator dengan enteng menjawab “Iya Bapak Agung, perlu bapak ketahui bahwa bisnis saya adalah bisnis pelatihan/seminar, dan hari ini Bapak datang ke bisnis saya”.

Baca artikel lainnya : Kunci Komunikasi Bukan Tell tapi Sell – Ala Motivator Indonesia

Balik lagi ke awal, bahwa tidak semua motivator adalah praktisi, bisa jadi ia adalah akademisi yang mempraktikannya langsung dengan membuka sebuah pelatihan atau seminar. Dan seminar/pelatihan adalah sebuah produk untuk mendelivery suatu ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu tersebut kombinasi antara yang sudah dipraktikan dengan teori-toeri umum. Dan tidak perlu sebuah jaminan untuk mempraktikan semua hal yang kita bicarakan. Karena selama ilmu itu benar, mau disampaikan oleh orang yang tidak berpengalamanpun juga tetap benar. Contohnya begini, kalau anda menuntut semua ilmu yang anda ajarkan harus anda alami sendiri, bagaimana caranya anda berbicara tentang sejarah, bagaimana anda berbiara tentang revolusi industri, bagaimana anda berbicara tentang krisis?. Karena hakikatnya adalah, tidak semua ilmu harus dipraktikan sendiri untuk menjadi ilmu, karena ilmu tetaplah ilmu, meski disampaikan oleh orang yang tidak mengalaminya sekalipun!.

Semoga setelah membaca tulisan ini anda akan mengambil kesimpulan sendiri, apakah seorang Motivator adalah penjual ludah ?

Silahkan Bagikan Kepada Orang Terkasih Anda 🙂 🙂 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *