Hot! Ini Sejarah Jenang Mubarok Kudus – Selain Masjid Menara Kudus yang menjadi ikon paling terkenal di Kota Kudus, Kudus juga menyimpan histori yang cukup menarik pada segmentasi kuliner. Jenang adalah salah satu jenis jajanan paling identik dengan Kota Kudus, jadi belum lengkap rasanya jika kamu melawat ke Kudus tanpa membawa oleh-oleh jenang.

Bahkan karena legendaris, saat ini kamu bisa menjumpai sebuah museum yang khusus memuat historisitas mengenai jenang di Kudus. Jika menelisik mengenai sejarah jenang, maka jenang yang paling eksis di masyarakat tiada lain adalah merek jenang Mubarok, yang konon merupakan inisiator jajanan jenang di Kudus.

Berawal sebagai camilan keluarga, Jenang Mubarok telah menjadi salah satu pembuat dodol Kudus yang sangat melegenda selama 110 tahun. Ingin tahu mengenai sejarah dari Jenang Mubarok khas Kudus ini? Simak ulasan berikut,

a. Sejarah Jenang Mubarok Kudus: Terdapat Pengaruh Sunan Kudus!

Untuk menelusuri sejarah jenang di Kudus, sangat tepat apabila kita mengunjungi museum yang berlokasi di Jln. Sunan Muria 33 – Kota Kudus. Di sana, kita bisa mengetahui bahwa jenang di Kudus sudah ada wujudnya sejak ratusan tahun yang lalu, dan erat kaitannya dengan tokoh Sunan Kudus.

Awalnya, ada tokoh bernama Mbah Denok Soponyono yang memiliki seorang cucu. Cucu dari Mbah Denok tersebut bermain dengan burung merpati di pinggiran sungai, lalu anak tersebut jatuh dan hanyut di sungai. Bocah itu dibantu oleh penduduk setempat, dan kabar ini diketahui oleh Sunan Kudus dan muridnya Syekh Jangkung yang melintas, dan seketika langsung menghampiri kerumunan warga.

Pada saat itu, Sunan Kudus sendiri telah menyimpulkan bahwa bocah yang hanyut di sungai tersebut telah meninggal. Namun, Syekh Jangkung mengatakan bahwasanya bocah itu cuma mati suri sebentar. Untuk membangunkan jasad anak tersebut, maka Syekh Jangkung meminta para ibu untuk membuatkan jenang.

Dari situlah, Sunan Kudus kemudian bertitah: “Suk nek ono rejaning jaman, wong Kaliputu uripe seko jenang”. Kalimat ini berarti, suatu waktu nanti, sumber penghidupan dari warga Desa Kaliputu ini akan berasal dari produksi pembuatan jenang.

Dari kisah lokal tersebut, produksi jenang kudus di Desa Kaliputu, atau umumnya di Kota Kudus makin berkembang sampai saat ini. Bahkan untuk menyukuri nikmat ini, terdapat ritual tahunan yang diniatkan untuk syukuran berkah produksi perdagangan jenang. Kudus kerap mengadakan Kirab Tebokan atau Arak-arakan Jenang pada 1 Muharram.

b. Eksistensi Jenang Mubarok Kudus

Menariknya, di kawasan museum yang sama juga menyimpan potret para pendiri dan pengelola dari jenang merek Mubarok, yang kini telah memasuki generasi ketiga. Di sana ditampilkan profil dari tiap generasi, diawali dengan pelopor pertama Jenang Mubarok, yakni pasangan H. Mabruri & Hj. Alawiyah pada tahun 1910 sampai 1940.

Lalu kemudian berlanjut ke generasi kedua, yaitu H. A. Sochib & Hj. Istifaiyah, dari tahun 1940 sampai 1992. Kemudian sampai pada generasi ketiga, yaitu pasangan H. Muhammad Hilmy, SE & Hj. Nujumullaily, SE dari tahun 1992 sampai saat ini.

Jenang merek Mubarok ini telah eksis di Kota Kudus selama 110 tahun. Kini generasi ketiga mengikuti jejak pembuat jenang yang paling legendaris, yang masih mengaplikasikan resep serta bahan yang tradisional.

Sajian jenang merek Mubarok di Kudus telah merambah dunia internasional, karena sudah mulai ada langkah untuk ekspor. Untuk varian produk jenang yang dikeluarkan oleh merek Mubarok, kamu sudah bisa menikmati banyak varian rasa. Sebut saja seperti cappuccino, moka, bahkan hingga durian. Hmm…Begitu lezat, kan? Yuk ke Kudus untuk menikmati jenang di sana.

Categories: BlogWawasan

Bigbi Inti

Bigbi Inti adalah perusahaan pengembangan SDM di Indonesia melalui metode TRAINING | COACHING | CONSULTING | SEMINAR | OUTBOUND dibawah naungan BIGBI GROUP | WA 0821 3432 3274

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *